BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Termoregulasi
adalah suatu mekanisme makhluk hidup untuk mempertahankan suhu internal agar
berada di dalam kisaran yang dapat ditolelir (Campbell, 2004). Berdasarkan
Tobin (2005), suhu berpengaruh kepada tingkat metabolisme. Suhu yang tinggi
akan menyebabkan aktivitas molekul-molekul semakin tinggi karena energi
kinetiknya makin besar dan kemungkinan terjadinya tumbukan antara molekul satu
dengan molekul lain semakin besar pula (Chang, 1996). Akan tetapi, kenaikan
aktivitas metabolisme hanya akan bertambah seiring dengan kenaikan suhu hingga
batas tertentu saja. Hal ini disebabkan metabolisme di dalam tubuh diatur oleh
enzim (salah satunya) yang memiliki suhu optimum dalam bekerja. Jika suhu
lingkungan atau tubuh meningkat atau menurun drastis, enzim-enzim tersebut
dapat terdenaturasi dan kehilangan fungsinya
Di dalam
tubuh organisme (tingkat individu) pasti ada mekanisme regulasi untuk mencapai
keadaan yang homeostatic. Homeostatik pada
dasarnya merupakan suatu upaya mempertahankan atau menciptakan kondisi yang
stabil dinamis (“steady state “) yang menjamin optimalisasi berbagai proses
fisiologis dalam tubuh. Untuk mencapai keadaan tersebut, tubuh melakukan
berbagai aktivitas regulasi, sebagai mekanisme untuk mencapai homeostatis yang
diharapkan. Regulasi dan homeostatis juga terjadi di tingkat populasi dan
komunitas dalam suatu ekosistem.
Regulasi
merupakan suatu proses untuk mencapai keadaan yang stabil. Regulasi dilakukan
dalam banyak bentuk, misalnya regulasi untuk mempertahankan cairan tubuh,
osmolaritas tubuh, keasaman, suhu, kadar lemak, gula dan protein darah,dsb.
Pada tubuh manusia, regulasi diperankan oleh antara lain adalah syaraf dan
hormone.karena kedua komponen merupakan pengendali utama dalam proses regulasi
dalam tubuh. Pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh,
dan ekskresi adalah elemen-elemen dari homeostasis.
Dalam
pengaturan suhu tubuh, hewan /manusia harus mengatur panas yang diterima atau
yang hilang ke lingkungan. Mahluk butuh suhu lingkungan yang cocok, agar
metabolisme dalam tubuh berjalan normal. Jika suhu lingkungan terlalu rendah ia
harus mengeluarkan energi lebih besar daripada biasanya berupa panas . Enzim
bekerja dalam suhu optimum. Jika suhu rendah
enzim tidak bisa bekerja,
berarti metabolisme terhalang.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa
pengertian dan fungsi termoregulasi
2.
Bagaimana
proses termoregulasi
3.
Bagaimana
pengaruh suhu terhadap hewan endoterm, eksotem dan heteroterm
4.
Bagaimana
pertukaran panas
melalui aliran berlawanan
5.
Bagaimana
mekanisme dormansi
pada hewan
C. Tujuan
1.
Untuk
mengetahui pengertian dan fungsi termoregulasi
2.
Untuk
mengetahui proses termoregulasi
3.
Untunk
mengetahui pengaruh suhu terhadap hewan endoterm, eksotem dan heteroterm
4.
Untuk
mengetahui pertukaran panas melalui
aliran berlawanan
5.
Untuk
mengetahui mekanisme dormansi pada hewan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Dan Fungsi Termoregulasi
Termoregulasi
adalah suatu mekanisme makhluk hidup untuk mempertahankan suhu internal agar
berada di dalam kisaran yang dapat ditolelir. Proses yang terjadi pada hewan
untuk mengatur suhu tubuhnya agar tetap konstan dinamis. Mekanisme
termoregulasi terjadi dengan mengatur keseimbangan antara perolehan panas
dengan pelepasan panas. Termoregulasi
manusia berpusat pada hypothalamus anterior terdapat tiga komponen pengatur
atau penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan
saraf eferen serta termoregulasi dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu
tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya.
Pengukuran
yang paling sering dilakukan adalah pengukuran suhu, nadi, tekanan darah,
frekuensi pernafasan, dan saturasi oksigen. Sebagai indikator dari status
kesehatan, ukuran-ukuran ini menandakan keefektifan sirkulasi, respirasi,
fungsi neural dan endokrin tubuh. Karena sangat penting maka disebut tanda
vital. Banyak faktor seperti suhu lingkungan, latihan fisik, dan efek sakit
yang menyebabkan perubahan tanda vital, kadang-kadang di luar batas normal.
Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Untuk mempertahankan
suhu tubuh manusia dalam keadaan konstan, diperlukan regulasi suhu tubuh. Suhu
tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed back) yang diperankan
oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus.
Pada
Hewan Pengaruh suhu pada lingkungan, hewan dibagi menjadi dua golongan, yaitu
Poikiloterm dan Homoiterm. Poikiloterm suhu tubuhnya dipengaruhi oleh
lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh
luar. Hewan seperti ini juga disebut hewan berdarah dingin. Yang termasuk dalam
poikiloterm adalah bangsa Ikan, Reptil, dan Amfibi. Dan hewan homoiterm sering
disebut hewan berdarah panas karena dapat menjaga suhu tubuhnya. Hewan yang
termasuk dalam homoiterm adalah bangsa Aves dan Mamalia.
Suhu
tubuh tergantung pada neraca keseimbangan antara panas yang diproduksi atau
diabsorbsi dengan panas yang hilang. Panas yang hilang dapat berlangsung secara
radiasi, konveksi, konduksi dan evaporasi. Radiasi adalah transfer energi
secara elektromagnetik, tidak memerlukan medium untuk merambat dengan kecepatan
cahaya. Konduksi merupakan transfer panas secara langsung antara dua materi
padat yang berhubungan lansung tanpa ada transfer panas molekul. Panas menjalar
dari yang suhunya tinggi kebagian yang memiliki suhu yang lebih rendah.
Konveksi adalah suatu perambatan panas melalui aliran cairan atau gas. Besarnya
konveksi tergantung pada luas kontak dan perbedaan suhu. Evaporasi merupakan
konveksi dari zat cair menjadi uap air, besarnya laju konveksi kehilangan panas
karena evaporasi.
Mekanisme pengaturan suhu tubuh
merupakan penggabungan fungsi dari organ-organ tubuh yang saling berhubungan.
didalam pengaturan suhu tubuh mamalia terdapat dua jenis sensor pengatur suhu,
yaitu sensor panas dan sensor dingin yang berbeda, tempat pada jaringan
sekeliling (penerima di luar) dan jaringan inti (penerima di dalam) dari tubuh.
Dari kedua jenis sensor ini, isyarat yang diterima langsung dikirimkan ke
sistem saraf pusat dan kemudian dikirim ke syaraf motorik yang mengatur
pengeluaran panas dan produksi panas untuk dilanjutkan ke jantung, paru-paru
dan seluruh tubuh. Setelah itu terjadi umpan balik, dimana isyarat, diterima
kembali oleh sensor panas dan sensor dingin melalui peredaran darah .
Sebagian
panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan.
Melalui evaporasi berfungsi menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. dan
modifikasi sistim sirkulasi di bagian kulit. Kontriksi pembuluh darah di bagian
kulit dan countercurrent heat exchange adalah salah satu cara untuk mengurangi
kehilangan panas tubuh. Manusia menggunakan baju merupakan salah satu perilaku
unik dalam termoregulasi.
Suhu
tubuh hewan dipengaruhi oleh suhu lingkungan luar. Pada suhu -2oC s.d suhu 50oC
hewan dapat bertahan hidup atau pada suhu yang lebih ekstrem namun untuk hidup
secara normal hewan memilih kisaran suhu yang lebih sempit dari kisaran suhu
tersebut yang ideal dan disukai agar proses fisiologis optimal. Usaha hewan untuk mempertahankan
suhu tubuhnya agar tetap konstan dan tidak terjadi perbedaan drastis dengan
suhu lingkungannya disebut thermoregulasi. Di dalam tubuh hewan yang hidup
selalu terjadi proses metabolisme. Dengan demikian selalu dihasilkan panas,
karena tidak semua energi yang terbentuk dari metabolisme dimanfaatkan. Panas
yang terbentuk dibawa oleh darah ke seluruh tubuh sehingga tubuh menjadi panas
dan disebut sebagai suhu tubuh.
Fungsi Termoregulasi
a. Untuk
mempertahankan suhu tubuh agar tetap konstan dan tidak terjadi perbedaan
drastis dengan suhu lingkungann.
b. Untuk menyeimbangkan suhu tubuh agar
bisa bertahan hidup.
B. Proses
Termoregulasi
Semua
organisme, dan juga semua benda mempertukarkan panas dengan lingkungan
eksternalnya melalui empat proses fisik yaitu
konduksi, konveksi, evaporasi, dan radiasi.
1. Konduksi
konduksi adalah perpindahan langsung gerakan termal (panas)
atara molekul-molekul lingkungan dengan molekul-molekul permukaan tubuh. Panas
akan dihantarkan dari benda bersuhu lebih tinggi ke benda bersuhu lebih rendah.
Hal ini merupakan suatu alasan mengapa kita dapat dengan cepat menyejukkan
tubuh kita dengan berdiri atau berendam dalam air dingi selama musim panas.
2. Konveksi
konveksi adalah perpindahan panas melalaui pergerakan udara
atau cairan melawati permukaan tubuh,
seperti kesejukan dan kenyamanan yang dirasakan seseorang karena kipas angin
selama hari-hari panas, walaupun sebagian besar dari pengaruh ini disebabkan
pendinginan melalui evaporasi.
3. Evaporasi (penguapan air dari kulit)
Evaporasi
adalah kehilangan panasdari permukaan cairan yang kehilangan beberapa
molekulnya yang berubah menjadi gas. Setiap satu gram air yang mengalami
evaporasi akan menyebabkan kehilangan panas tubuh sebesar 0,58 kilokalori. Pada
kondisi individu tidak berkeringat, mekanisme evaporasi berlangsung sekitar 450
– 600 ml/hari. Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus menerus dengan
kecepatan 12 – 16 kalori per jam. Evaporasi ini tidak dapat dikendalikan karena
evaporasi terjadi akibat difusi molekul air secara terus menerus melalui kulit
dan sistem pernafasan. Evaporasi air dari seekor hewan memberi efek pendingin
yang signifikan pada permukaan hewan itu.
4. Radiasi
Radiasi adalah pancaran gelombang elektro magnetik yang
dihasilkan oleh semua benda-benda yang lebih hangat dari suhu absolute nol,
termasuk tubuh hewan dan matahari. Radiasi dapat memindahkan panas dari
benda-benda yang tidak melakukan kontak secara langsung. Pada manusia dan hewan
radiasi adalah mekanisme kehilangan panas tubuh dalam bentuk gelombang panas
inframerah. Gelombang inframerah yang dipancarkan dari tubuh memiliki panjang
gelombang 5 – 20 mikrometer. Tubuh manusia memancarkan gelombang panas ke
segala penjuru tubuh.

Manusia dan hewan pada proses termoregulasi mengatur suhu
tubuhnya dengan menggunakan beberapa kombinasi dari empat kategori umum
adaptasi:
1.Penyesuaian
laju pertukaran panas antara hewan dan lingkungan sekitarnya.
Insulasi
tubuh, seperti rambut, bulu dan lemak yang terletak persis dibawah kulit,
mengurangi kehilangan panas dari tubuh hewan. mekanisme lain yang mengatur
pertukaran panas umumnya melibatkan adaptasi sistem sirkulasi. Sebagai contoh,
banyak hewan endotermik dan beberapa dan beberapa hewan ektotermik dapat
mengubah jumlah darah yang mengalir ke kulitnya. Peningkatan aliran darah
umumnya disebabkan oleh vasodilatasi
yaitu peningkatan diameter pembuluh darah superfisial (pembuluh darah yang
berada dekat permukaan tubuh). Penyesuaian sebaliknya yaitu vasokonstriksi yaitu menurunkan aliran
darah dan hilangnya panas dengan menurunkan diameter pembuluh darah
superfisial.
2.
Pendinginan melalui kehilangan panas
evaporatif.
Hewan kehilangan air melalui pernapasan dan melalui kulit.
Jika kelembaban cukup rendah, air akan
menguap dan hewan itu akan kehilangan panas dengan cara pendinginan melalui
evaporasi. Evaporasi dari sistem pernapasan dapat ditingkatkan dengan cara panting (menjulurkan lidah keluar).
Pendinginan melalui kulit dapat ditingkatkan dengan cara berendam atau
berkeringat.
3.
Respon perilaku,
Banyak hewan dapat meningkatkan atau menurunkan hilangnya
panas tubuh dengan cara berpindah tempat. Mereka akan berjemur di bawah terik
matahari atau pada batu panas selama musim dingin, menemukan tempat sejuk dan
lembab atau masuk ke dalam lubang di dalam tanah ketika musim panas, atau
bahkan bermigrasi ke lingkungan yang lebih sesuai.
4.
Perubahan laju produksi panas
metabolik.
Kategori ini hanya berlaku pada hewan endotermik, khususnya
mamalia dan unggas. Adaptasi termoregulasi ini hanya berlaku pada hewan
endotermik khusunya mamalia dan unggas. Banyak spesies mamalia dan unggas dapat
melipatgandakan produksi panas metabolisme sebanyak dua atau tiga kali lipat
ketika terpapar keadaan dingin.
C. Pengaruh
Suhu Terhadap Hewan Endoterm, Eksotem Dan Heteroterm
a. Hewan endoterm
Hewan
endoterm adalah hewan yang suhu tubuhnya berasal dari
produksi panas di dalam tubuh, yang merupakan hasil samping dari metabolisme
jaringan contoh aves dan mamalia.
Beberapa cara hewan endoterm dalam mengantisipasi pengaruh cekaman dingin
yaitu Pengurangan Gradien Termik (T1-T2), Penurunan
Konduktans Termik (C), Penurunan Panas Melalui Evaporasi dan Peningkatan
Termogenesis. Sebaliknya pada lingkungan yang panas, hewan endoterm akan
menurunkan termogenesis dan meningkatkan termolisis.
b. Hewan eksoterm
Hewan
eksoterm adalah hewan yang sangat bergantung pada suhu
di lingkungan luarnya untuk meningkatkan suhu tubuhnya karena panas yang
dihasilkan dari keseluruhan sistem metabolismenya hanya sedikit contoh ikan dan
amfibia. Cara adaptasi hewan eksoterm
menghadapi suhu yang sangat tinggi yaitu dengan meningkatkan laju pendinginan
dengan penguapan melalui kulit, bagi hewan yang berkulit lembab atau dengan
cara berkeringat untuk hewan yang mempunyai kelenjar keringat dan melalui
saluran napas, bagi hewan yang kulitnya tebal dan kedap air; dan mengubah mesin
metaboliknya agar bisa bekerja pada suhu tinggi. Sebaliknya cara adaptasi hewan
eksoterm pada suhu sangat dingin yaitu dengan menambah zat terlarut ke dalam
cairan tubuhnya untuk meningkatkan konsentrsasi osmotik dan menambah protein
anti beku ke dalam cairan tubuh.
c. Hewan heteroterm
Hewan heteroterm adalah
hewan yang dapat memiliki suhu tubuh tinggi dan dapat diatur, namun pada saat
lain lebih mendekati keadaan hewan berdarah dingin. Hewan kelompok ini dapat
memproduksi panas, tetapi tidak dapat mempertahankan suhu tubuhnya yang kisaran
suhu yang sempit. Contohnya mamalia kecil, burung dan serangga terbang. Hewan
heteroterm memiliki suhu tubuh yang konstan walau suhu lingkungan berubah-ubah.
Suhu tubuh dipertahankan 37-40 C (mamalia) dan 41-42 C (burung). Untuk menjaga
suhu tubuh stabil (steady state) hewan ini melakukan regulasi secara fisik
dengan gemetar dan evaporasi dengan mengeluarkan keringat. Bila suhu lingkungan
meningkat ekstrim, maka aktifitas regulasi akan meningkat sejalan dengan
perubahan ekstrim tersebut.
D.
Pertukaran Panas Melalui Arah Berlawanan
Pertukaran
panas lawan arah atau arah berlawanan merupakan suatu pengaturan arteri dan vena.Pertukaran
panas melalui lawan arus sangat penting
dalam pengontrolan hilangnya panas pada pada banyak hewan endodermik. Sebagai
contoh, mamalia laut dan banyak burung menghadapi permasalah karena kehilangan
sejumlah besar panas dari anggota tubuhnya. Arteri yang membawa darah yang
hangat menuruni kaki burung atau sirip lumba-lumba atau paus berada sangat
dekat dengan vena yang mengirimkan darah dengan arah yang berlawanan, kembali
menuju tubuh. Pengaturan lawan arus ini memudahkan pemindahan panas dari arteri
ke vena di sepanjang pembuluh darah. Dekat dengan ujung kaki atau sirip, dimana
darah dalam arteri telah didinginkan sampai ke suhu jauh di bawah suhu tubuh
hewan itu, arteri masih dapat memindahkan panas bahkan ke dalam darah yang
lebih dingin di vena sebelahnya. Darah vena dapat terus menyerap panas karena
selalu melewati darah arteri yang semakin lama semakin hangat yang mengalir
dengan arah yang berlawanan. Ketika darah vena mendekati pusat
tubuh, daerah tersebut hampir sehangat tubuh bagian dalam, dan meminimalkan
kehilangan panas sebagai akibat penyediaan darah ke bagian tubuh yang terendam
dalam air dingin. Pada beberapa spesies, darah dapat memmasuki tungkai baik
melalui penukar panas atau melalui pembuluh yang dialihkan di sekitar penukar
panas itu. Jumlah relatif darah yang memasuki tungkai melalui kedua jalur yang
berbeda itu sungguh bervariasi, sehingga Mengatur Laju Kehilangan Panas.
E. Dormansi Pada Hewan
Dormansi berasal dari kata dorman
yang artinya tidak aktif atau tidur. Istilah ini biasanya digunakan untuk
tumbuhan dan hewan yang tidak aktif pada musim-musim tertentu untuk menghindari
kesulitan atau kematian akibat suhu. Pada hewan, dormansi merupakan bentuk umum
dari heterotermi temporal, pada keadaan dorman aktifitas tubuh hewan, termasuk
kecepatan metaboliknya, lebih rendah dari normal, bahkan dapat sampai pada
titik terendah. Beberapa ahli biologi hewan membedakan dormansi menjadi lima
bentuk, yaitu : tidur, bermalas-malasan (torpor), hibernasi, “tidur musim dingin”
dan tidur musim panas (estivasi).
a. Tidur
Peristiwa tidur masih sangat sedikit
diketahui, meskipun sudah dipelajari secara intensif pada manusia dan mamalia
yang lain. Telah diketahui bahwa selama tidur terdapat keterlibatan fungsi otak
secara luas, terjadi penurunan suhu tubuh dan sensitivitas hipotalamik.
Terdapat bukti bahwa zat-zat yang menyebabkan tidur yang terbentuk
selamaterjaga penuh, diakumulasikan dalam cairan ekstraselulersistem saraf
pusat, namun identitas dan pengaruh zat tersebut belum diketahui. Pada hewan
heteroterm, tidur dan keempat kategori dormansi yang lain dimanifestasikan
sebagai proses-proses fisiologikal yang berhubungan.
b. Torpor (Bermalas-malasan)
Pada saat musim dingin hewan homoeterm
dihadapkan pada masalah harus mempertahankan suhu tubuh atau membiarkan suhu
tubuhnya turun dengan berbagai konsekuensi. menjaga suhu tubuh pada musim
dingin pada suatu harga laju metabolik lebih tinggi adalah mahal. Hewan kecil
yang telah memiliki laju metabolik tinggi sebelumnya dan kemudian harus
meningkatkannya lagi, mungkin menjadi sangat mahal, lebih-lebih bila tidak ada
penambahan makanan masuk. Jalan keluar yang mudah dan satu-satunya pemecahan masalah
yang masuk akal adalah menyerah untuk tidak tetap panas dan membiarkan suhu
tubuhnya turun drastis. Pada saat torpor suhu hewan turun mendekati suhu udara,
laju metabolik, denyut jantung, respirasi, dan fungsi-fungsi yang laain juga
turun. Semakin tinggi suhu tubuh, semakin rendah kecepatan konversi cadangan
energi (seperti jaringan lemak) menjadi panas tubuh. Keadaan ini menguntungkan
hewan, untuk membiarkan suhu tubuhnya turun ketingkat rendah selama periode
tidak makan (kecuali yang mengalami stres osmotik atau stres suhu).
c. Hibernasi dan Tidur Musim Dingin
Dalam fisiologi, kata hibernasi
mengacu kepada kondisi lembam (torpid) dengan laju metabolisme yang sangat
rendah. Hibernasi berbeda dengan torpor harian, dimana seekor hewan biasanya
masuk hibernasi dengan konsekuensi penurunan suhu, dan dengan demikian suhu
tubuhnya menjadi lebih rendah. Banyak mamalia dan beberapa burung melakukan
hibernasi secara reguler setiap musim dengan. Pada saat itu suhu tubuh hewan
turun hampir sama dengan suhu lingkungan. Kecepatan metabolik, denyut jantung, respirasi,
dan fungsi-fungsi yang lain, turun secara drastis, hewan menjadi malas dan
menunjukkan respon rendah terhadap stimulus eksternal seperti kebisingan atau
sentuhan. Dengan menghentikan aktifitas, hewan dapat bertahan hidup selam musim
dingin.
d. Estivasi (Tidur Musim Panas )
Secara sederhana estivasi berarti “
tidur musim panas “ pada vetebrata maupun invetebrata. Estivasi merupakan
bentuk dormansi dari beberapa spesies hewan untuk merespon suhu lingkungan
tinggi atau bahaya dehidrasi. Contoh invetebrata yang melakukan estivasi adalah
siput darat seperti Helix dan Otala. Hewan tersebut akan mulai dorman
untuk periode panjang dari kekeringan dengan menarik tubuhnya kedalam cangkang,
kemudian menutup mulut cangkang dengan mensekresikan diafragma seperti
operculum untuk mengurangi kehilangan air lewat penguapan.
Contoh hewan vertebrata yang
melakukan estivasi adalah ikan paru-paru dari Afrika. Pada saat musim kemarau
dimana kolam-kolam kering, ikan tersebut dapat bertahan hidup dalam lumpur
setengah kering dengan melakukan astivasi, sampai datang musim hujan yang
mengisi kolam dengan air kembali. Contoh yang lain adalah tupai tanah dari
Coulombia, menghabiskan akhir musim panas dalam liangnya tanpa aktifitas dengan
membiarkan suhu tubuhnya menyamai suhu lingkungannya. Ada yang memperkirakan
bahwa keadaan ini mirip dengan hibernasi, hanya berbeda pada musimnya.
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Termoregulasi
adalah suatu mekanisme makhluk hidup untuk mempertahankan suhu internal agar
berada di dalam kisaran yang dapat ditolelir. Proses yang terjadi pada hewan
untuk mengatur suhu tubuhnya agar tetap konstan dinamis. Mekanisme
termoregulasi terjadi dengan mengatur keseimbangan antara perolehan panas
dengan pelepasan panas.
2.
Fungsi
Termoregulasi yaitu : untuk mempertahankan suhu tubuh agar tetap
konstan dan tidak terjadi perbedaan drastis dengan suhu lingkungann dan untuk menyeimbangkan suhu tubuh agar
bisa bertahan hidup.
3. Semua
organisme, dan juga semua benda mempertukarkan panas dengan lingkungan eksternalnya
melalui empat proses fisik yaitu
konduksi, konveksi, evaporasi, dan radiasi.
4.
Manusia
dan hewan pada proses termoregulasi mengatur suhu tubuhnya dengan menggunakan
beberapa kombinasi dari empat kategori umum adaptasi:
a.
Penyesuaian
laju pertukaran panas antara hewan dan lingkungan sekitarnya.
b. Pendinginan melalui kehilangan panas
evaporatif.
c. Respon perilaku,
d. Perubahan laju produksi panas
metabolik.
5. Cara hewan endoterm dalam mengantisipasi pengaruh cekaman dingin yaitu
Pengurangan Gradien Termik (T1-T2), Penurunan Konduktans
Termik (C), Penurunan Panas Melalui Evaporasi dan Peningkatan Termogenesis.
Sebaliknya pada lingkungan yang panas, hewan endoterm akan menurunkan
termogenesis dan meningkatkan termolisis.
6. Cara
adaptasi hewan eksoterm menghadapi suhu yang sangat tinggi yaitu dengan
meningkatkan laju pendinginan dengan penguapan melalui kulit, bagi hewan yang
berkulit lembab atau dengan cara berkeringat untuk hewan yang mempunyai
kelenjar keringat dan melalui saluran napas, bagi hewan yang kulitnya tebal dan
kedap air; dan mengubah mesin metaboliknya agar bisa bekerja pada suhu tinggi.
7. Untuk menjaga suhu tubuh stabil (steady state) hewan
ini melakukan regulasi secara fisik dengan gemetar dan evaporasi dengan
mengeluarkan keringat. Bila suhu lingkungan meningkat ekstrim, maka aktifitas
regulasi akan meningkat sejalan dengan perubahan ekstrim tersebut.
8. Pertukaran panas lawan arah
atau arah berlawanan merupakan
suatu pengaturan arteri dan vena.Pertukaran panas melalui lawan arus sangat penting dalam pengontrolan hilangnya
panas pada pada banyak hewan endodermik. Sebagai contoh, mamalia laut dan
banyak burung menghadapi permasalah karena kehilangan sejumlah besar panas dari
anggota tubuhnya.
9. Dormansi
berasal dari kata dorman yang artinya tidak aktif atau tidur. Istilah ini
biasanya digunakan untuk tumbuhan dan hewan yang tidak aktif pada musim-musim
tertentu untuk menghindari kesulitan atau kematian akibat suhu.
10. Beberapa
ahli biologi hewan membedakan dormansi menjadi lima bentuk, yaitu : tidur,
bermalas-malasan (torpor), hibernasi, “tidur musim dingin” dan tidur musim
panas (estivasi).
B. SARAN
Dari penulis pribadi mengakui bahwa
memang makalah yang telah selesai disusun ini jauh dari kesempurnaan.
Masih banyak sekali kekurangan dan kesalahan terutama nilai keakuratan
yang sebenarnya. Maka dari itu, sangat diperlukan sekal ikritik dan saran yang
membangun dari saudara demi keberlanjutan pembuatan makalah untuk melengkapi
dan menyempurnakan makalah ini di masa mendatang. Dan oleh sebab itu penulis sangat
mengharapkan kritikan maupun saran dari pembaca agar makalah ini dapat lebih sempurna.
DAFTAR
PUSTAKA
Campbell,
Neil A. at al 2008. Biology (eight edition). Jakarta:
Erlangga.
Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Soewolo, 2000., Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta:PGSM.